JAKARTA – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, memberikan sinyal positif terkait pemulihan ekonomi di wilayah terdampak bencana di Sumatera. Dalam rapat koordinasi Satgas Pemulihan Pascabencana, Rabu (18/2/2026), ia mengungkapkan bahwa aktivitas perdagangan UMKM di Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah kembali ke level normal.
Indikator utama pemulihan ini terlihat dari masifnya angka transaksi pada kanal khusus e-commerce bertajuk "UMKM Sumatera Bangkit" yang diinisiasi oleh kementerian bersama berbagai platform digital.
Data Transaksi "UMKM Sumatera Bangkit" (22 Jan – 11 Feb 2026)
Kolaborasi ini melibatkan raksasa e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, dan Lazada untuk memasarkan produk unggulan daerah.
| Provinsi | Jumlah Transaksi | Status Pemulihan |
|---|---|---|
| Sumatera Barat | ~2.000.000 | Relatif Normal |
| Sumatera Utara | ~1.300.000 | Relatif Normal |
| Aceh | ~16.000 | Perlu Perhatian Ekstra |
| Total (Sumatera) | 3,5 Juta Transaksi | 2.059 UMKM Terlibat |
Berbeda dengan Sumut dan Sumbar, wilayah Aceh dinilai masih memerlukan upaya ekstra dari pemerintah. Menteri Maman mencatat bahwa aktivitas operasional UMKM di Aceh baru menyentuh angka 66 persen.
Meskipun jumlah transaksi masih rendah dibandingkan provinsi tetangga, partisipasi pelaku usaha di Aceh tergolong tinggi dengan variasi produk yang kompetitif, mulai dari kuliner, kerajinan tangan, hingga kebutuhan logistik harian.
"Aktivitas transaksi di Sumatera Barat dan Sumatera Utara memang sudah relatif normal sesuai penyampaian Mendagri. Namun, untuk Aceh masih perlu extra effort karena operasionalnya belum pulih sepenuhnya," ujar Maman Abdurrahman.
Kementerian UMKM fokus memanfaatkan landing page khusus pada platform digital untuk memastikan rantai pasok dari produsen ke konsumen tidak terputus meski akses fisik mungkin masih dalam perbaikan. Produk yang mendominasi pasar saat ini meliputi kategori pakaian, makanan olahan, dan perlengkapan rumah tangga.
Integrasi teknologi ini diharapkan menjadi model mitigasi ekonomi masa depan, di mana UMKM tetap bisa "berlari" di dunia digital saat terjadi hambatan operasional di dunia nyata.