SUMATERA UTARA — Di balik tembok tinggi Lapas Garut, aktivitas tak berhenti pada rutinitas hunian. Sejak pagi, sejumlah warga binaan terlihat sibuk di area peternakan—memberi pakan, memeriksa kondisi ayam, hingga memanen telur. Mereka adalah bagian dari program pembinaan kemandirian sektor pertanian dan peternakan yang dijalankan lapas.
Bagi sebagian narapidana, kegiatan ini adalah pengalaman pertama. Sebelumnya, banyak dari mereka tidak punya pengetahuan sama sekali soal tata cara beternak unggas. Lewat pelatihan praktis di dalam lapas, mereka perlahan memahami siklus perawatan ayam petelur, mulai dari pemberian pakan yang terjadwal hingga kebersihan kandang.
Hasil panen dari program ini punya manfaat nyata. Telur yang dihasilkan dipakai untuk memenuhi kebutuhan pangan warga binaan di dalam lapas. Kelebihannya, disalurkan ke masyarakat umum dan sejumlah mitra dapur Makanan Pendamping Gizi (MPG) di sekitar Garut.
Dengan begitu, program ini tak sekadar mengisi hari-hari selama masa pidana. Ada nilai produktif yang dibangun: para warga binaan belajar bekerja, bertanggung jawab, dan melihat hasil nyata dari kerja keras mereka.
Tujuan jangka panjangnya lebih dari sekadar ketahanan pangan lapas. Keterampilan beternak ini diharapkan menjadi bekal hidup setelah mereka bebas nanti. Dengan kemampuan mengelola usaha peternakan, para mantan warga binaan punya peluang lebih besar untuk membuka usaha sendiri dan kembali produktif di tengah masyarakat.
Program pembinaan seperti ini menjadi contoh bagaimana fungsi pemasyarakatan dijalankan—bukan hanya menghukum, tetapi juga menyiapkan individu agar bisa mandiri secara ekonomi. Lapas Garut sendiri terus mendorong para warga binaan untuk aktif mengikuti kegiatan serupa, sejalan dengan upaya pemerintah menekan angka residivis lewat pemberdayaan keterampilan kerja.