SUMATERA UTARA — Pemerintah Kabupaten Banyumas bersama para pegiat seni terus mengakselerasi langkah menjadikan lengger sebagai ikon budaya yang diakui secara global. Agenda bertajuk 'Lengger Bicara' telah ditetapkan sebagai acara tahunan daerah, menjadi wadah strategis untuk menghimpun aspirasi dan memperkuat dokumen pengusulan ke UNESCO.
Dialog dan Tari Massal di Pendopo Si Panji
Kegiatan yang berlangsung di Purwokerto itu tidak hanya diisi dengan tarian massal. Sebelumnya, digelar dialog antara Lestari Moerdijat dengan puluhan seniman dan pegiat lengger. Dalam forum tersebut, berbagai masukan terkait pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional diserap langsung oleh wakil ketua MPR.
Puncak acara ditandai dengan partisipasi Lestari Moerdijat yang turun ke lapangan dan menari bersama ratusan penari. Aksi simbolis ini dinilai sebagai bentuk apresiasi tinggi negara terhadap para pelaku seni yang selama ini menjaga keberlangsungan kesenian khas Banyumas.
Lengger Bukan Sekadar Tarian, Tapi Identitas Perempuan
Para pegiat seni menekankan bahwa lengger bukan hanya pertunjukan semata. Kesenian ini diyakini menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda, khususnya perempuan, untuk terus berkreasi dan mengembangkan potensi diri. “Melalui lengger, perempuan Banyumas bisa menunjukkan identitas dan kreativitasnya di panggung nasional maupun internasional,” ujar salah satu pegiat dalam dialog tersebut.
Upaya mendorong lengger ke UNESCO dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga warisan leluhur di tengah gempuran budaya asing. Dengan status warisan dunia, kesenian ini diharapkan mendapatkan perlindungan hukum dan pendanaan yang lebih kuat dari pemerintah pusat maupun lembaga internasional.
Target Pengusulan dan Dukungan Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Banyumas telah menyusun peta jalan pengusulan lengger sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO. Salah satu syarat utama yang tengah dipenuhi adalah dokumentasi komprehensif serta bukti keberlangsungan tradisi di masyarakat. Ajang 'Lengger Bicara' yang digelar tahunan menjadi salah satu bukti konkret bahwa kesenian ini masih hidup dan terus diwariskan.
Lestari Moerdijat dalam sambutannya menyatakan komitmennya untuk mengawal usulan ini di tingkat pusat. Ia menilai kesenian lengger memiliki keunikan yang tidak dimiliki daerah lain, sehingga layak mendapat pengakuan dunia. “Ini bukan sekadar tarian, ini adalah identitas bangsa yang harus kita banggakan,” katanya.
Ribuan penari yang hadir berasal dari berbagai sanggar dan komunitas di Banyumas dan sekitarnya. Mereka mengenakan kostum khas lengger dengan warna-warna cerah, menambah semarak suasana di halaman pendopo. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang reuni para seniman yang selama ini berjuang sendirian dalam melestarikan budaya.
Ke depan, pemerintah daerah berencana menggelar festival lengger berskala lebih besar dengan mengundang partisipasi dari mancanegara. Langkah ini diharapkan bisa memperkenalkan kesenian Banyumas ke khalayak global sebelum proses pengusulan resmi ke UNESCO dimulai.